Berita
Dorong Satuan PAUD Melek Digital, Wamendikdasmen Fajar Tinjau Penggunaan Papan Interaktif Digital di Bogor
Berita 2025-11-06 | 17:48:00
PAUDPEDIA Bogor - Suasana berbeda dari biasanya terjadi di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA) V dan TK Negeri Motekar di Kota Bogor, Senin (4/11). Tidak seperti hari-hari biasa. Bukan hanya karena kunjungan pejabat, melainkan ada layar besar yang berpendar di ruang kelas, menjadi pusat perhatian para balita dengan seragam ceria.
Layar itu adalah Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP), sebuah perangkat yang didorong menjadi jangkar baru dalam upaya digitalisasi pendidikan di tingkat paling dasar: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, hadir di sana, didampingi Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah. Kedatangan mereka bukan sekadar seremoni. Ini adalah peninjauan langsung atas kebijakan nasional yang tengah digulirkan: memastikan teknologi pendidikan benar-benar berfungsi di garis depan, di tengah-tengah ruang belajar yang selama ini identik dengan krayon dan kertas lipat.
Teknologi, Bukan Sekadar Ada
Wamen Fajar tidak ingin teknologi ini hanya menjadi pajangan. Tujuannya tegas: digitalisasi pendidikan dasar dan menengah harus terakselerasi, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan kesempatan belajar yang setara dan menyenangkan bagi seluruh anak Indonesia. Sebuah visi yang terasa ambisius, tapi dimulai dari langkah konkret di PAUD-PAUD.
"Kami ingin memastikan bahwa teknologi ini bukan hanya ada, tetapi digunakan secara optimal," jelas Fajar Riza Ul Haq, suaranya terdengar serius namun penuh harap. Ia menekankan bahwa IFP, yang ditunjang dengan konten dari Aplikasi Rumah Pendidikan, berfungsi ganda: membuat materi belajar lebih menarik, sekaligus menanamkan karakter sejak dini.
Para guru di TK ABA V Bogor adalah saksi hidup dari perubahan kecil, tapi signifikan ini. Salah seorang guru menuturkan, "Anak-anak lebih semangat belajar sejak ada IFP. Mereka jadi lebih fokus dan antusias mengikuti kegiatan."
Sebuah pengakuan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi merupakan indikator kuat bahwa layar sentuh interaktif itu berhasil memecah rutinitas belajar yang monoton. IFP, dengan segala visual dan interaksinya, ternyata mampu menyulap kelas menjadi arena bermain yang edukatif.
Kegiatan belajar menjadi lebih aktif dan partisipatif. Balita-balita itu, generasi yang sejak lahir dikepung gawai, kini dipertemukan dengan teknologi yang terintegrasi langsung dengan kurikulum.
Distribusi dan Revitalisasi Dua Kaki Pendidikan Bermutu
Angka distribusi Papan Interaktif Digital ini tak main-main. Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah, mencatat bahwa saat ini 31.009 perangkat telah didistribusikan. Jumlah ini adalah setengah jalan dari total target 64.191 satuan PAUD penerima di 36 provinsi di seluruh Indonesia. Sebuah ikhtiar masif untuk memastikan bahwa kesenangan dan kesetaraan pengalaman belajar tidak lagi menjadi hak istimewa anak-anak di kota besar saja.
Kunjungan Wamen Fajar di Bogor kemudian berlanjut ke TK Negeri Motekar. Namun, kali ini fokusnya sedikit bergeser. Selain melihat pemanfaatan IFP, ia meninjau langsung proyek revitalisasi sarana dan prasarana sekolah. Infrastruktur fisik, yang seringkali menjadi pekerjaan rumah menahun, tengah dikebut. Progres pembangunan toilet dan sarana pendukung lainnya telah mencapai 72 persen.
"Kita ingin memastikan bahwa revitalisasi satuan pendidikan benar-benar meningkatkan kenyamanan dan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak dan guru," tegas Wamen Fajar.
Ia menyuarakan prinsip dasar: infrastruktur yang baik adalah fondasi penting bagi pendidikan yang bermutu. Modernisasi teknologi harus berjalan beriringan dengan perbaikan fisik sekolah. Mustahil berharap lahirnya generasi melek digital dari sekolah yang toiletnya saja tak layak.
Karakter dan Keberanian di SD Muhammadiyah
Agenda peninjauan ditutup di SD Muhammadiyah 1 Bogor. Di sekolah ini, Wamen Fajar tidak hanya melihat kondisi sarana prasarana dan KBM. Ia memilih berinteraksi langsung dengan para siswa, termasuk anak-anak dari panti asuhan yang bersekolah di sana.
Dialog yang terbangun tak melulu soal kurikulum atau nilai. Wamen Fajar memilih menyentuh isu yang lebih mendasar: pola hidup sehat dan keberanian untuk mencoba.
Dua aspek ini, menurutnya, adalah kunci dari pembentukan karakter dan kecerdasan anak. Ini adalah benang merah yang menghubungkan antara digitalisasi, revitalisasi, dan akhirnya, penguatan karakter.
Kunjungan kerja di Bogor ini adalah sebuah mozaik kecil dari komitmen besar Kemendikdasmen. Tujuannya tunggal: mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Sebuah janji yang kini sedang diwujudkan melalui akselerasi digital, pemenuhan infrastruktur yang layak, dan penekanan pada pembangunan karakter anak Indonesia.
Bogor, hari itu, bukan sekadar titik geografis. Ia adalah simbol dari dimulainya lompatan, dari sebuah TK kecil, menuju cita-cita besar: menghasilkan generasi yang melek digital dan berkarakter sejak dini, siap menghadapi masa depan yang tak terhindarkan lagi berbasis teknologi.
Peliput : Aldo Nurhuda
Penyunting: Eko Harsono
Sumber Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnya