Berita
Dirjen PAUD Dikdasmen Gogot Suharwoto Tinjau Pelaksanaan TKA dan Revitalisasi di Bali Jembatan Keniscayaan Menuju Transformasi Pendidikan
Berita 2025-11-09 | 08:38:00
PAUDPEDIA Denpasar – Suasana SMAN 6 Denpasar pada hari itu dipenuhi semangat eksplorasi diri. Bukan tanpa alasan, Tes Kemampuan Akademik (TKA) tengah berlangsung, sebuah inisiatif yang dirancang untuk membantu siswa mengenali dan mengembangkan potensi akademik mereka.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, hadir langsung untuk menyaksikan pelaksanaan TKA. Sebelum tes dimulai, beliau menyempatkan diri berinteraksi dengan para siswa kelas XII di laboratorium komputer. "Anak-anak terlihat antusias dan percaya diri. Ini bukan ujian kelulusan, tapi kesempatan untuk mengenali kemampuan diri sendiri," ujarnya, memberikan suntikan motivasi.
Sebelum bel berbunyi, Gogot menyempatkan diri meninjau laboratorium komputer yang telah disulap menjadi ruang ujian. Ia berinteraksi dengan para siswa kelas XII yang wajahnya memancarkan semangat sekaligus ketegangan. Dengan senyum ramah, Gogot menyemangati mereka, “Anak-anak terlihat antusias dan percaya diri. Ini bukan ujian kelulusan, tapi kesempatan untuk mengenali kemampuan diri sendiri.”
Kata-kata itu seolah menjadi mantra yang menenangkan. TKA, yang diikuti oleh 347 siswa SMAN 6 Denpasar dalam tiga sesi, memang bukan sekadar ujian biasa. Ini adalah sebuah "perjalanan" untuk menggali potensi diri, menemukan bakat terpendam, dan merencanakan masa depan dengan lebih percaya diri.
Ekosistem Sekolah Bangga
Kepala SMAN 6 Denpasar, I Ketut Suendi, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas kelancaran pelaksanaan TKA. Ia berterima kasih atas dukungan penuh dari Kemendikdasmen, serta kerja keras seluruh guru dan staf yang telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. “Kami sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Syukurlah pelaksanaan TKA hari ini berjalan lancar,” ujarnya dengan nada lega.
Gogot menjelaskan bahwa TKA dirancang sebagai alat bantu bagi siswa untuk memahami kekuatan dan kelemahan mereka di berbagai bidang akademik. Hasilnya tidak akan mempengaruhi kelulusan, namun dapat menjadi bahan refleksi yang berharga dalam menentukan pilihan karier atau pendidikan lanjutan.
“TKA tidak wajib dan tidak menentukan kelulusan. Namun hasilnya bisa menjadi cermin bagi murid untuk memahami apa yang mereka bisa dan belum bisa, agar lebih percaya diri saat menentukan arah karier atau melanjutkan pendidikan,” jelasnya.
Wardatul Ainun Jamillah, siswi kelas XII-F1, mengungkapkan perasaannya setelah menyelesaikan TKA. “Perasaan saya campur aduk. Senang dan lega karena sudah selesai, tapi tetap tegang menunggu hasilnya,” katanya sambil tersenyum.
Meski mengaku ada beberapa soal yang cukup sulit, ia merasa telah berusaha semaksimal mungkin. “Untuk adik-adik yang nanti akan ikut TKA, jadikan ini bukan sekadar ujian, tapi kesempatan untuk membuktikan kalau kalian sudah berproses dan siap ke jenjang berikutnya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pesannya dengan penuh semangat.
Dalam kunjungannya, Gogot juga memastikan bahwa TKA dilaksanakan secara adil dan inklusif. Setiap ruang ujian diawasi dengan ketat oleh proktor dan pengawas dari sekolah lain, dengan soal yang berbeda di setiap komputer. Ia juga menekankan bahwa TKA dapat diakses oleh semua siswa, tanpa terkendala oleh keterbatasan fasilitas.
“Sekolah yang belum memiliki laboratorium komputer bisa meminjam ke sekolah lain. Prinsipnya, TKA tidak boleh merugikan satuan pendidikan mana pun,” tegasnya.
Tak hanya meninjau TKA, Gogot juga menyempatkan diri melihat program revitalisasi satuan pendidikan di SMAN 6 Denpasar. Pembangunan perpustakaan, ruang OSIS, dan toilet yang lebih modern merupakan bagian dari Inpres yang bertujuan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana sekolah di seluruh Indonesia. “Progres di sini sudah sekitar 85 persen dan ditargetkan rampung pada awal Desember,” ujarnya dengan optimis.
Sebanyak 347 siswa SMAN 6 Denpasar mengikuti TKA yang dibagi menjadi tiga sesi. Kepala SMAN 6 Denpasar, I Ketut Suendi, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Dirjen Gogot dan memastikan bahwa infrastruktur dan jaringan internet telah disiapkan dengan baik. "Kami sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Syukurlah pelaksanaan TKA hari ini berjalan lancar," katanya.
TKA Alat Diagnostik
Gogot menjelaskan bahwa TKA adalah alat diagnostik yang berharga bagi siswa. "TKA tidak wajib dan tidak menentukan kelulusan. Namun hasilnya bisa menjadi cermin bagi murid untuk memahami apa yang mereka bisa dan belum bisa, agar lebih percaya diri saat menentukan arah karier atau melanjutkan pendidikan," terangnya.
Wardatul Ainun Jamillah, seorang siswi kelas XII-F1, berbagi pengalamannya setelah mengikuti TKA. "Perasaan saya campur aduk. Senang dan lega karena sudah selesai, tapi tetap tegang menunggu hasilnya," ujarnya. Ia juga menambahkan, "Untuk adik-adik yang nanti akan ikut TKA, jadikan ini bukan sekadar ujian, tapi kesempatan untuk membuktikan kalau kalian sudah berproses dan siap ke jenjang berikutnya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil."
Gogot juga memastikan bahwa TKA dilaksanakan secara inklusif dan adil. Setiap ruang ujian diawasi oleh proktor dan pengawas dari sekolah lain, dan soal yang diberikan berbeda di setiap komputer. "Sekolah yang belum memiliki laboratorium komputer bisa meminjam ke sekolah lain. Prinsipnya, TKA tidak boleh merugikan satuan pendidikan mana pun," tegasnya.
Selain fokus pada TKA, Gogot juga meninjau program revitalisasi satuan pendidikan di SMAN 6 Denpasar, termasuk pembangunan perpustakaan, ruang OSIS, dan toilet. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia. "Progres di sini sudah sekitar 85 persen dan ditargetkan rampung pada awal Desember," ungkap Gogot.
Kunjungan Gogot dilanjutkan ke TK Kesuma Sari Denpasar, SDN 10 Dauh Puri Denpasar, dan SMP Muhammadiyah 2 Denpasar, di mana ia memantau program revitalisasi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Ia menekankan pentingnya data Dapodik yang akurat untuk memastikan bantuan revitalisasi tepat sasaran. "Revitalisasi harus berbasis data yang akurat agar setiap bantuan menjawab kebutuhan nyata sekolah," pungkasnya.
TKA di SMAN 6 Denpasar adalah langkah positif dalam membantu siswa mengenali potensi akademik mereka. Dengan dukungan pemerintah dan semangat siswa, diharapkan TKA dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.
Penyunting Eko Harsono
Sumber Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen