Berita
Direktorat PAUD Gelar Semiloka Pengasuhan Sejak Anak Usia Dini, Batas Merah Perlindungan Anak Dari Fatherless hingga Ancaman Digital
Berita 2025-12-16 | 12:00:00
PAUDPEDIA Jakarta – Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PAUD Dikdasmen menggelar Seminar dan Lokakarya Pengasuhan Anak Sejak Usia Dini yang dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Dr Abdul Mu’ti serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi.
Acara yang membahas tantangan dan strategi pengasuhan di era modern mengungkapkan gambaran mengkhawatirkan: Indonesia menghadapi krisis serius dalam pemenuhan kebutuhan esensial anak, mulai dari masalah gizi, akses pendidikan, hingga ancaman digital dan kesehatan mental yang meluas.
Dalam paparanya Direktur PAUD Dr Nia Nurhasanah menyoroti bahwa masa usia dini adalah tahap krusial yang menentukan perkembangan anak selanjutnya. Namun, data yang dipaparkan dalam acara itu menunjukkan bahwa banyak anak tidak mendapatkan dasar yang kuat.
Rita Pranawati dari Staf Khusus Kemendikdasmen menjelaskan kebijakan dan implementasi 7 Kualitas Akses dan Layanan PAUD (KAIH), sedangkan Zohratun Nihayah membahas pengasuhan positif berbasis hak anak. Soripada Harahap akhirnya menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam pengasuhan dan pemantauan anak usia dini.
KPAI Tampilkan Data Kasus
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr Aris Adi Laksono, M.Pd, yang membahas tema “Usia Dini Fase Fondasi Tentukan Masa Depan Anak”, menegaskan bahwa kondisi perlindungan anak di Tanah Air berada di titik kritis. Kumulatif sejak Januari 2021 hingga Juni 2025, KPAI menerima 14.525 kasus pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.
Data tersebut terbagi menjadi 8.941 kasus pemenuhan hak anak dan 5.584 kasus perlindungan khusus anak. Yang paling memprihatinkan adalah fenomena dominasi orang tua kandung sebagai pelaku pelanggaran hak anak. Berdasarkan hubungan teradu dengan korban, ayah kandung menduduki posisi teratas dengan 8,8%, diikuti oleh ibu kandung sebesar 8,4%.
“Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi pihak yang paling sering diadukan. Ini adalah ironi yang sangat menyakitkan,” kata Aris dalam presentasinya.
Dalam klaster pemenuhan hak anak, kasus tertinggi adalah anak korban pengasuhan bermasalah atau konflik orang tua/keluarga sebanyak 1.759 kasus, disusul oleh pelarangan akses bertemu orang tua (1.599 kasus) dan kekurangan nafkah (1.302 kasus).
Selain itu, Indonesia menghadapi tantangan besar fenomena fatherless (ketidakadaan figur ayah) yang mencakup 15.946.280 anak atau 20,1% dari total anak di Tanah Air. Angka ini meliputi anak yang tinggal hanya bersama ibu, kakek-nenek, atau bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu.
Dampak Fatherless Perhatian KemenPPPA
Dampak fatherless sangat signifikan terhadap kesehatan mental dan perilaku anak. Anak laki-laki cenderung mengalami depresi dan hiperaktif, sedangkan anak perempuan lebih rawan kecemasan, depresi, dan ketergantungan berlebihan pada figur lain. KemenPPPA bahkan menyebut Indonesia sebagai negara fatherless terbesar ketiga di dunia, menunjukkan minimnya peran ayah dalam pengasuhan.
Isu kekerasan dan perlindungan anak juga semakin kompleks di ranah digital. KPAI menyoroti bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-4 dunia dalam kasus pornografi anak daring. Paparan teknologi dan media sosial yang masif, ditambah kurangnya pengawasan, meningkatkan risiko eksploitasi anak. Data menunjukkan sekitar 66% anak-anak di Indonesia telah terpapar konten pornografi daring, sedangkan di Jakarta saja 31,4% remaja mengalami kecanduan internet.
Kesehatan mental anak pun menjadi masalah yang semakin parah. Survei Indonesia National Mental Health Survey (I-NAMHS) 2023 menunjukkan 1 dari 3 anak usia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental.
KemenPPPA menambahkan bahwa 34,9% remaja dalam 12 bulan terakhir mengalami masalah kesehatan mental, namun hanya 2,6% yang pernah mengakses layanan dukungan atau konseling. Kondisi ini turut tercermin dari meningkatnya kecenderungan anak menyakiti diri dan mengakhiri hidup, yang sebagian besar dipicu oleh perundungan.
Selain masalah perlindungan, Direktorat PAUD mengungkapkan krisis dalam pemenuhan kebutuhan esensial anak usia dini yang meliputi kesehatan, akses pendidikan, dan ancaman karakter. Sebanyak 38,82% balita mengalami keluhan kesehatan, sedangkan jangkauan imunisasi dasar lengkap baru mencapai 63,88%. Meskipun stunting telah menjadi fokus nasional, prevalensinya masih berada di angka 19,8% pada tahun 2024. Capaian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga masih di bawah target WHO sebesar 80%, hanya mencapai 72,13%.
Kesenjangan Akses dan Layanan PAUD
Kesenjangan dalam akses dan kualitas PAUD menjadi masalah struktural. Angka Partisipasi Sekolah (APS) PAUD baru mencapai 74,15%, dan 14.404 desa/kelurahan belum memiliki satuan PAUD sama sekali. Fasilitas layanan esensial di satuan PAUD juga memprihatinkan: hingga November 2025, hanya 17% (sekitar 34.245 dari 206.245) satuan PAUD yang memiliki fasilitas sanitasi memadai, termasuk sumber air, toilet, dan tempat cuci tangan pakai sabun.
Ancaman terhadap penguatan karakter juga semakin jelas. Hingga November 2024, tercatat 960.000 pelajar dan mahasiswa terjerat judi online. Selain itu, hanya 20,35% anak dibacakan buku cerita oleh orang tua atau pengasuh, yang berkorelasi dengan munculnya “Generasi Stroberi/Instan” yang kurang tangguh menghadapi tekanan. Data BPS 2023 menunjukkan 2,85% balita (0-4 tahun) masih mendapatkan pengasuhan yang tidak layak, berdampak pada perkembangan holistik mereka.
KemenPPPA yang membahas “Pengasuhan Positif Berbasis Hak Anak” menambahkan data bahwa satu dari dua anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya. Bentuk kekerasan yang paling umum adalah emosional (43,17% laki-laki dan 47,82% perempuan), diikuti oleh fisik (21,22% laki-laki dan 15,56% perempuan) dan seksual (8,34% laki-laki dan 8,82% perempuan).
Direktorat PAUD menekankan bahwa pengasuhan responsif adalah kunci perkembangan optimal otak anak, dan peran orang tua sebagai guru pertama dan utama sangat krusial. “Tanpa dasar pengasuhan yang baik sejak usia dini, masa depan anak dan negara akan terancam. Semua pihak harus berkolaborasi untuk mengubah kondisi ini,” tegas Nia Nurhasanah di akhir acara.
Peliput Eko Widodo, Kharisma dan Azriel Aufa
Penyunting EB Harsono
InfoTerkini
Menjaga Nadi Pendidikan dari Angka dan Realitas Dapodik, Geliat Senyap Satuan PAUD Kala 95,6 Persen Data PAUD Menyala di Pelosok Nusantara
Berita 2026-09-14 | 14:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA - Di balik papan ketik komputer di ribuan pelosok Nusantara, jemari para operator sekolah terus bergerak sabar. Mereka menyusun baris-baris angka, merapikan identit...
selengkapnyaRiset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnya