Berita
Datuk Dr. Habibah Abdul Rahim : “Satu Visi ASEAN Melalui Peta Jalan Pendidikan Usia Dini, Memastikan Tak Ada Anak Tertinggal Sejak PAUD”
Berita 2026-04-10 | 10:30:00
JAKARTA, PAUDPEDIA – Ketimpangan capaian pendidikan di kawasan Asia Tenggara mulai terdeteksi sejak bangku sekolah dasar sebagai akibat dari tidak meratanya akses dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD) terjadi di hampir banyak negara termasuk kawasan Asia Tenggara.
Untuk mengatasi hal tersebut, negara-negara ASEAN menyepakati peta jalan strategis guna memastikan layanan PAUD menjadi bagian integral dan wajib dalam sistem pendidikan nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam peluncuran "Peta Jalan Bersama Senior ASEAN untuk Perawatan dan Pendidikan Anak Usia Dini (ECCE) di Asia Tenggara" yang digelar di Jakarta, Kamis (9/4/2026). Peta jalan ini merupakan tindak lanjut dari Deklarasi ASEAN tentang PAUD yang diadopsi pada September 2023.
Direktur Sekretariat Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEO), Datuk Dr. Habibah Abdul Rahim, dalam sambutannya menekankan bahwa PAUD bukan lagi sekadar investasi pilihan, melainkan pilar fondasi bagi sistem pendidikan yang berkeadilan.
"Jika kita serius ingin meningkatkan hasil belajar, kita harus berinvestasi pada tahun-tahun awal kehidupan anak," ujarnya.
Habibah memaparkan data terbaru dari Southeast Asia Primary Learning Matrix (SEA-PLM) 2024 yang menunjukkan korelasi kuat antara durasi mengikuti prasekolah dengan kemampuan literasi dan numerasi siswa di masa depan.
Di beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam, siswa yang mengenyam pendidikan prasekolah lebih dari dua tahun memiliki skor membaca yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengikuti satu tahun atau tidak sama sekali.
Kesenjangan yang Nyata
Meski akses PAUD di kawasan terus meningkat dengan rentang partisipasi antara 25 persen hingga 98 persen, tantangan besar masih membayangi pada aspek pemerataan. Habibah menyoroti bahwa anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah sering kali memulai pendidikan dasar dalam kondisi tertinggal dibandingkan rekan-rekan mereka.
"Kesenjangan ini cenderung melebar seiring berjalannya waktu jika tidak ada intervensi sejak dini," tegasnya.
Oleh karena itu, peta jalan ini dirancang sebagai "kompas strategis" untuk menyelaraskan kebijakan antarnegara, memperkuat koordinasi lintas sektoral seperti kesehatan dan nutrisi, serta memastikan akses yang adil bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung.
Data SEA-PLM 2024 juga menunjukkan tren positif di mana banyak sistem pendidikan di Asia Tenggara mulai bertransisi untuk menjadikan PAUD sebagai komponen pendidikan dasar yang gratis dan wajib.
Di negara-negara yang sudah mapan sistem PAUD-nya, fokus kebijakan kini bergeser dari sekadar penyediaan akses menjadi optimalisasi durasi atau masa partisipasi anak.
Tiga Prioritas Utama
Dalam implementasi peta jalan ini, SEAMEO menetapkan tiga prioritas utama. Pertama, penguatan tata kelola dan koherensi kebijakan lintas sektoral. Pasalnya, urusan anak usia dini tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian pendidikan, tetapi juga melibatkan sektor kesehatan terkait gizi dan perlindungan sosial.
Kedua, investasi pada kualitas dan keadilan layanan. Hal ini mencakup pendanaan yang tepat sasaran serta pengembangan kompetensi tenaga pendidik PAUD. Ketiga, penggunaan data sebagai basis pengambilan keputusan.
Data seperti SEA-PLM diharapkan tidak hanya menjadi laporan di atas kertas, tetapi menjadi rujukan dalam menyesuaikan kebijakan di lapangan.
Habibah juga mengingatkan pentingnya peran lingkungan rumah. Keterlibatan orang tua dan ketersediaan materi belajar di rumah menjadi stimulan penting yang membentuk kesiapan anak untuk belajar di sekolah.
Apresiasi khusus diberikan kepada Pemerintah Indonesia, terutama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang dinilai konsisten menunjukkan kepemimpinan dalam memajukan agenda PAUD di tingkat regional. Indonesia dianggap berhasil mendorong dialog antarnegara anggota ASEAN untuk menyepakati standar kualitas layanan anak usia dini.
Acara peluncuran ini dihadiri oleh para pejabat tinggi kementerian pendidikan se-Asia Tenggara, perwakilan Sekretariat ASEAN, serta mitra pembangunan internasional. Kehadiran mereka menegaskan bahwa pembenahan pendidikan di Asia Tenggara harus dimulai dari titik paling awal.
"Di jantung peta jalan ini adalah anak-anak. Mereka berhak mendapatkan awal yang kuat dan dukungan untuk mencapai potensi penuh mereka. Dengan menyukseskan agenda ini, kita tidak hanya memperbaiki sistem pendidikan, tetapi tengah membentuk wajah masa depan Asia Tenggara," pungkas Habibah.
Langkah kolektif ini diharapkan mampu memutus rantai kemiskinan dan ketimpangan melalui jalur pendidikan. Melalui peta jalan ini, ASEAN berambisi memastikan bahwa pada tahun-tahun mendatang, tidak ada lagi anak di kawasan yang memulai hari pertama mereka di sekolah dasar dengan kondisi tertinggal.
Peliput : Eko Widodo dan Aldo Nurhuda
Penyunting : EB Harsono