Berita
Dari Pelatihan PM-KKA, Guru Belajar Mengubah Hafalan Menjadi Makna dan Membebaskan Anak Dari Ketergantungan Gawai Sejak Usia Dini
Berita 2026-07-13 | 07:45:00
PAUDPEDIA Jakarta - Pagi itu, suasana di ruang kelas TKIT SD Insan Madani, Jakarta Selatan tampak lebih riuh dari biasanya. Di hadapan anak-anak usia dini, berserak seikat sayur bayam segar. Tri Oktinawati, sang guru, tidak lagi sekadar meminta murid-muridnya duduk rapi dan menghitung jumlah daun bayam di tangan mereka. Kali ini, ia membawa helai-helai hijau itu ke dalam sebuah petualangan logika yang lebih dalam.
Anak-anak diajak mengamati pola tulang daun, memilah batang yang besar dan kecil, hingga mengelompokkan sayuran berdasarkan karakteristiknya. Tanpa memegang gawai atau menatap layar komputer, anak-anak TK ini sebenarnya sedang belajar dasar-dasar berpikir komputasional: dekomposisi, pengenalan pola, hingga abstraksi.
"Kalau sebelumnya mereka hanya menghitung daun bayam, sekarang dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam kami menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Kami juga menyelipkan afirmasi bahwa bayam itu menyehatkan tubuh karena mengandung zat besi," ujar Tri mengenang perubahan di kelasnya.
Praktik baik yang dilakukan Tri adalah potret kecil dari gelombang baru di ruang-ruang kelas Indonesia. Melalui Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), proses jenuh menghafal materi pelan-pelan mulai digantikan oleh pengalaman belajar yang hidup dan kontekstual.
Menghidupkan Ruang Kelas
Selama bertahun-tahun, kritik terhadap bangku sekolah di Indonesia bermuara pada satu hal: anak-anak sekadar menjadi wadah kosong yang dicekoki rumus dan teks hafalan. Namun, pendekatan baru ini mencoba membalik takdir tersebut.
Lompatan serupa dirasakan oleh Muhammad Jiyad Prawira, guru SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur. Di ruang kelasnya, pelajaran matematika yang kerap momok menakutkan kini berubah wajah. Jiyad mengaitkan angka-angka dan bangun ruang dengan budaya lokal serta lingkungan yang saban hari dilihat oleh murid-muridnya.
"Sekarang anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi memahami kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Saya menghubungkan budaya lokal dengan matematika sehingga mereka lebih aktif, antusias, dan mudah memahami pelajaran," ungkap Jiyad.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep yang diusung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.
Ia menegaskan bahwa Pembelajaran Mendalam menempatkan guru bukan lagi sebagai penceramah tunggal, melainkan fasilitator aktif yang mendampingi siswa melalui pendekatan 3P: Presage (kesiapan), Process (proses), dan Product (hasil).
"Guru menjadi fasilitator yang tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Murid dapat menceritakan pengalamannya, saling berdiskusi, dan membangun kedekatan (engagement) dalam proses belajar," kata Abdul Mu’ti saat peluncuran Pelatihan Mandiri PM-KKA di Jakarta.
Menjadikan Sekolah sebagai Laboratorium
Tantangan terbesar dari setiap kebijakan pendidikan baru adalah konsistensi dan pemerataan di lapangan. Menjawab hal itu, Kemendikdasmen kini memperluas jangkauan lewat pelatihan mandiri agar para guru di berbagai daerah dapat mengakses materi secara fleksibel.
Pendekatan Teacher Experimental Training
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program yang sejatinya telah berjalan sejak 2025 ini terus disempurnakan. Pada tahun 2026, kurikulum pelatihan diperkaya dengan pendekatan Teacher Experimental Training (TET). Pendekatan ini mengubah fungsi sekolah menjadi laboratorium hidup.
Melalui TET, guru tidak sekadar duduk mendengarkan teori di ruang seminar.
Mereka langsung menguji coba ilmu baru tersebut di kelas masing-masing, menghadapi tantangan nyata dari murid, lalu membawa hasilnya untuk dibedah dan direfleksikan bersama rekan sejawat di forum Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
"Selain pelatihan luring, kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi guru untuk mengikuti pelatihan mandiri," ujar Nunuk. Penerapannya pun disesuaikan secara spesifik berdasarkan karakteristik tiap mata pelajaran.
Di tengah kekhawatiran publik atas tingginya waktu layar (screen time) anak-anak akibat gawai, inovasi dari para guru seperti Tri dan Jiyad memberikan secercah harapan. Bahwa untuk mengenalkan teknologi masa depan seperti kecerdasan artifisial dan logika komputer, dunia pendidikan tidak selalu harus bermodal layar digital, melainkan dari kedekatan guru, murid, dan seikat bayam di atas meja kelas.
Penulis : Eko B Harsono
Sumber: Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnya