Berita
Bukan Sekadar Calistung, Bunda PAUD Pasuruan Ajak Orang Tua "Main" Sambil Belajar demi Sukseskan Wajib Belajar 13 Tahun Melalui 1 Tahun Prasekolah
Berita 2026-06-12 | 15:00:00
PASURUAN PAUDPEDIA – Di tengah gencarnya persiapan anak memasuki jenjang pendidikan dasar, sebuah pergeseran paradigma sedang digalakkan di Kota Pasuruan. Tidak lagi berfokus pada hafalan mekanis baca, tulis, dan hitung (calistung) yang kaku, Pemerintah Kota Pasuruan kini mendorong metode belajar berbasis permainan (play-based learning) untuk memperkuat literasi dini dan numerasi awal.
Langkah strategis ini tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di kelas, tetapi juga menyerukan peran aktif para orang tua. Melalui sosok Bunda PAUD Kota Pasuruan, Suryani Firdaus, masyarakat diajak untuk memahami bahwa kunci kesuksesan program Wajib Belajar 13 Tahun—yang mencakup satu tahun prasekolah wajib—terletak pada fondasi mental dan nalar anak yang dibangun sejak usia emas (golden age).
Suryani Firdaus menegaskan bahwa pengenalan kemampuan dasar di jenjang prasekolah harus bebas dari tekanan target akademis instan. Dalam Workshop Literasi dan Numerasi bagi Kepala dan Guru PAUD se-Kota Pasuruan, ia menyoroti risiko stres akademik jika calistung dipaksakan secara formal.
“Literasi dan numerasi harus dikenalkan melalui cara yang menyenangkan sehingga anak merasa nyaman dan senang belajar,” ujar Suryani.
Pesan ini menjadi penting bagi para orang tua. Seringkali, kecemasan orang tua melihat anak belum lancar membaca atau berhitung justru memicu metode pembelajaran yang menekan. Padahal, menurut arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, proses belajar harus dirancang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas belajar itu sendiri, bukan sekadar hasil akhir.
PAUD Membangun Nalar, Bukan Hafalan
Lalu, bagaimana bentuk nyata dari penguatan literasi dan numerasi tanpa paksaan? Jawabannya ada pada integrasi kegiatan sehari-hari ke dalam metode bermain.
Dalam pendekatan baru ini, numerasi awal tidak dimaknai sebagai menghafal rumus matematika, melainkan membangun number sense atau kepekaan bilangan. Anak-anak diajak mengenali pola, bentuk geometri, dan ukuran benda-benda di sekitar mereka saat bermain. Sementara itu, literasi dini difokuskan pada kemampuan bahasa reseptif (menyimak) dan ekspresif (berbicara/menceritakan kembali) melalui aktivitas bercerita yang interaktif.
Dr. Izzul Fitriyah, pakar PAUD yang hadir dalam workshop tersebut, menekankan pentingnya menciptakan literacy and numeracy-rich environment atau lingkungan belajar yang kaya literasi. Ini berarti penataan ruang kelas dan rumah harus mendukung eksplorasi anak, mulai dari penyediaan buku cerita yang menarik hingga alat permainan edukatif (APE) yang memicu keaksaraan awal.
Peran Krusial Orang Tua dan Sinergi Sekolah
Keberhasilan program Wajib Belajar 13 Tahun dengan satu tahun prasekolah sangat bergantung pada sinergi antara sekolah dan keluarga. Bunda PAUD Kota Pasuruan mengajak seluruh satuan PAUD untuk menjadi komunitas belajar yang inovatif, namun peran orang tua di rumah sama vitalnya.
Orang tua didorong untuk:
- Menciptakan Lingkungan Kaya Stimulasi: Menyediakan sudut baca di rumah dan alat main yang memicu rasa ingin tahu.
- Berinteraksi Secara Aktif: Meluangkan waktu untuk membacakan dongeng dan mendengarkan cerita anak, serta mengajak anak berdiskusi tentang angka dan bentuk dalam kegiatan sehari-hari seperti memasak atau berbelanja.
- Menghindari Tekanan Akademis Dini: Memahami bahwa setiap anak memiliki fase perkembangan berbeda dan fokus pada proses berpikir kritis, bukan kecepatan menghafal.
“Seraplah ilmu dari narasumber sebaik mungkin dan aplikasikan metode-metode kreatif tersebut,” pesan Suryani kepada para pendidik, sebuah pesan yang juga relevan bagi para orang tua di rumah.
Dengan mengubah pola pikir dari "belajar untuk ujian" menjadi "belajar untuk hidup", Kota Pasuruan berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Langkah kecil melalui permainan hari ini adalah investasi besar bagi kesuksesan pendidikan anak di masa depan.
Penulis : Dian Nuswantari
Sumber: Siaran Pers Humas Pemda Kabupaten Pasuruan