Berita
Bimtek Digitalisasi Pembelajaran di Surabaya, Direktorat PAUD Pastikan Digitalisasi Selaras Karakteristik dan Kebutuhan Anak Usia Dini
Berita 2025-11-18 | 12:49:00
PAUDPEDIA Surabaya — Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menegaskan bahwa upaya digitalisasi pembelajaran pada jenjang PAUD harus dipandang sebagai cara untuk meningkatkan mutu, bukan tujuan utama. Penerapan teknologi di kelas PAUD wajib berlandaskan pada karakteristik belajar anak usia dini yang mengedepankan pendekatan mindful, meaningful, dan joyful.
Penegasan fundamental ini disampaikan oleh Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, S.Si., M.Pd., dalam pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran PAUD Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Senin (18/11/2025). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 17–19 November 2025, ini menjadi respons strategis direktorat dalam menjawab tantangan rendahnya capaian literasi, numerasi, dan sains yang kini menjadi program prioritas nasional.
Fokus Mutu Proses, Bukan Perangkat Keras
Di hadapan 180 peserta dari satuan PAUD penerima bantuan digitalisasi tahun 2025, Dr. Nia Nurhasanah menekankan bahwa digitalisasi adalah instrumen untuk mencapai mutu proses belajar yang inklusif.
“Yang kita harapkan dari digitalisasi pembelajaran adalah mutu proses belajar yang inklusif—bukan sekadar menambah perangkat. Teknologi adalah cara, bukan tujuan,” tegas Dr. Nia.
Ia menjelaskan implementasi konsep Smart Classroom yang menyeimbangkan teknologi, lingkungan belajar, dan proses pembelajaran. Salah satu perangkat kunci adalah Interactive Flat Panel (IFP).
Dr. Nia menyebutkan sejumlah manfaat IFP di satuan PAUD, antara lain: meningkatkan antusiasme, mempermudah pemahaman karena sifatnya visual dan interaktif, serta mendukung personalisasi pembelajaran sesuai perkembangan anak.
Namun, beliau memberi peringatan keras. “Esensi digitalisasi di PAUD adalah perangkat interaktif, konten yang tepat, dan interaksi hangat dari pendidik. IFP hanya pemantik; aktivitas konkret tetap menjadi inti pembelajaran anak usia dini. Perangkat interaktif tidak boleh menggeser peran pendidik sebagai fasilitator utama.”
Tantangan Implementasi dan Peran BBPMP
Tantangan penerapan digitalisasi di PAUD, seperti keterbatasan kompetensi digital pendidik dan minimnya pemahaman teknologi pembelajaran yang sesuai usia anak, menjadi alasan utama diselenggarakannya bimtek ini.Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Dr. Djoni Setiawan, M.Pd., menjelaskan bahwa BBPMP berperan sentral dalam memastikan pendampingan teknis dan pengawasan di lapangan.
“Digitalisasi adalah upaya akselerasi mutu. Kami di BBPMP memastikan agar bantuan ini tidak hanya menjadi aset mati, melainkan terintegrasi dengan kurikulum dan praktik mengajar yang relevan,” ujar Dr. Djoni.
Hal ini sejalan dengan rangkaian materi yang diberikan, yang mencakup Administrasi Perangkat (Berita Acara Serah Terima/BAST) dan Pendampingan serta Pengawasan, yang disampaikan oleh tim teknis BBPMP Jatim, Dyah Ayu Mexliessiana, S.S., M.Pd., dan Lulu Khidaifah, S.Pd.,M.Pd.
Perspektif Praktisi dan Akademisi
Dampak IFP bagi anak-anak PAUD telah terlihat secara langsung dalam praktik di lapangan. Kumaidi, perwakilan dari Labs School, yang hadir sebagai narasumber praktisi, membagikan pengalamannya.
“IFP sangat membantu memvisualisasikan konsep abstrak. Anak-anak yang cenderung pasif menjadi lebih berani berpartisipasi karena adanya elemen gamifikasi dan interaksi langsung di layar,” katanya. Kumaidi juga menambahkan bahwa IFP dapat mempermudah evaluasi dan umpan balik secara cepat, serta mendukung inovasi kurikulum.
Dari sisi akademik, Dr. Rudiyanto dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyoroti pentingnya materi pembelajaran mendalam (Deep Learning). “Teknologi harus mampu mendorong anak dari sekadar mengetahui menjadi memahami. Konsep Deep Learning memastikan anak tidak hanya terpapar informasi, tetapi juga mampu mengolah, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan tersebut secara bermakna,” jelas Dr. Rudiyanto.
Ia menekankan bahwa bimtek ini berhasil mengintegrasikan teori dengan praktik, termasuk perancangan kegiatan interaktif berbasis IFP dan praktik microteaching yang mewajibkan peserta melakukan pemetaan pertama Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran. Kedua Menyikapi Risiko Keamanan dan Pengawasan Internal.
Aspek krusial lain yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah Etika dan Keamanan Digital. Narasumber dari Tim Analisis Tata Kelola Satuan Pendidikan dan Keamanan Madrasah (TA SKM), Dr. Ma’ruf, mengingatkan pendidik tentang ancaman yang harus diwaspadai, seperti hoaks, jejak digital, ketergantungan layar, hingga keamanan data pribadi.
“Pendidik adalah garda terdepan dalam membangun budaya digital yang sehat. Kita harus ingat, privasi anak adalah hak. Dokumentasi harus terkontrol, waktu layar harus terukur, dan setiap aktivitas digital harus bermakna,” tegas Dr. Ma’ruf.
Sementara itu, pihak Inspektorat Jenderal yang memantau alokasi dan pemanfaatan bantuan digitalisasi ini, mengingatkan peserta tentang pentingnya akuntabilitas dan transparansi. Inspektorat Jenderal menekankan bahwa administrasi perangkat, termasuk Berita Acara Penerimaan dan Pemanfaatan (BAPP) dan BAST, harus disusun dengan cermat sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan hukum.
Langkah ini untuk memastikan bantuan digitalisasi benar-benar sampai dan dimanfaatkan sesuai peruntukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Kegiatan yang ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh peserta ini diharapkan mampu menghasilkan pendidik PAUD yang kompeten dalam: mengelola perangkat, merancang pembelajaran interaktif berbasis IFP dan Ruang Murid, menerapkan pembelajaran mendalam, serta mengimplementasikan etika dan keamanan digital secara konsisten.
Mengakhiri sambutannya, Direktur PAUD Dr. Nia Nurhasanah memberikan pesan inspiratif. “Perubahan memang melelahkan, tetapi ketertinggalan jauh lebih melelahkan. Kita mulai sekarang, kita perbaiki sambil berjalan, dan kita ukur hasilnya. Karena ujung tombaknya adalah pendidik di kelas—yang setiap harinya menyalakan api belajar bagi generasi penerus bangsa.”
Peliput : Herry Hartawan dan Eko Widodo
Penyunting: EB Harsono