Berita
Asa Baru di Tepi Genangan: Senyum Malahayati Setelah Revitalisasi Selesai dan Mendapat Apresiasi Pak Menteri
Berita 2026-03-10 | 07:12:00
PIDIE JAYA, PAUDPEDIA – Selama belasan tahun, Nelli S.Pd. terbiasa dengan pemandangan yang menyayat hati setiap kali awan mendung menggelayut di langit Kabupaten Pidie Jaya. Sebagai Kepala Sekolah TK Negeri Malahayati, ia harus menyaksikan murid-muridnya belajar di tengah kepungan air. Atap bocor, dinding retak yang nyaris roboh, dan genangan banjir menjadi kawan akrab dalam proses belajar-mengajar.
“Dulu kalau hujan, kami belajarnya di dalam genangan air. Menyedihkan sekali melihat kondisi sekolah yang tidak layak disebut sekolah di sebuah kabupaten,” kenang Nelli saat ditemui tim komunikasi program revitalisasi, Senin (9/3/2026).
Kondisi fisik yang memprihatinkan itu berdampak langsung pada kepercayaan masyarakat. Dengan gedung yang lebih mirip "kandang sapi" daripada institusi pendidikan, jumlah murid merosot tajam.
Pada masa sulit itu, TK Negeri Malahayati hanya menyisakan 15 orang murid. Nelli S.Pd., yang sebelumnya terbiasa mengelola sekolah yang ramai, sempat merasa jenuh dan kehilangan semangat. Rasa minder kerap muncul saat bersanding dengan lembaga pendidikan lain yang memiliki fasilitas jauh lebih mumpuni.
Namun, takdir pendidikan di pesisir Aceh ini mulai berayun ke arah positif pada tahun 2025. Melalui program revitalisasi satuan pendidikan, TK Negeri Malahayati mendapatkan suntikan bantuan fisik yang mengubah wajah sekolah secara drastis.
Gotong Royong Bangkitkan Ekonomi
Program revitalisasi ini tidak sekadar menurunkan anggaran dan material, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi desa. Nelli menceritakan bahwa seluruh tenaga kerja, mulai dari tukang hingga buruh kasar, direkrut dari penduduk sekitar sekolah.
“Pembangunan ini sangat membantu perekonomian warga. Apalagi saat proses pembangunan kemarin, daerah kami dihantam musibah banjir besar. Warga kehilangan penghasilan, dan proyek revitalisasi inilah yang menjadi penyambung hidup mereka,” ujar Nelli.
Meski demikian, perjalanan renovasi tidaklah mulus. Tantangan alam dan fluktuasi harga material menjadi ujian berat. Banjir yang merendam wilayah tersebut sempat menghentikan pekerjaan selama hampir satu setengah bulan karena akses jalan terputus dan material bangunan tenggelam.
Belum lagi persoalan inflasi harga bahan bangunan. Harga semen yang awalnya diprediksi Rp 62.000 per sak, melonjak drastis menjadi Rp 75.000 saat pembelian dilakukan. “Dana yang sudah kami plot sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB) menjadi tidak relevan. Tapi kami berkomitmen, bangunan ini harus selesai demi anak-anak,” tegasnya.
Transformasi Ruang Belajar
Kini, setelah revitalisasi tuntas 100 persen, wajah kusam TK Negeri Malahayati telah berganti. Sekolah tersebut kini memiliki satu unit Ruang Kelas Baru, satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang baru, serta rehabilitasi total pada ruang administrasi.
Perubahan fisik ini membawa dampak psikologis yang luar biasa bagi para guru dan wali murid. "Rasanya seperti dunia sudah milik kami saat mendengar sekolah ini akan direhab. Sekarang, semangat guru-guru untuk mengajar meningkat berkali-kali lipat karena suasananya sudah nyaman," kata Nelli dengan mata berbinar.
Kepercayaan orang tua pun kembali pulih. Gedung baru menjadi magnet yang menarik minat warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka kembali ke TK Negeri Malahayati. Hal ini membuktikan bahwa sarana prasarana merupakan pintu masuk utama bagi peningkatan mutu pendidikan.
Pekerjaan Rumah Tersisa
Kendati telah mengalami kemajuan pesat, Nelli menyadari bahwa perjalanan menuju sekolah ideal masih panjang. Ia tidak memungkiri bahwa kebutuhan fasilitas pendukung lainnya masih sangat mendesak.
"Kami sangat bersyukur, tapi jujur ini masih kurang. Kami baru punya satu ruang kelas (RKB), sementara kegiatan pembelajaran membutuhkan lebih dari itu. Kami juga belum memiliki fasilitas sanitasi atau WC yang memadai untuk anak-anak, pagar sekolah, hingga area bermain," ungkapnya jujur.
Baginya, revitalisasi adalah napas baru, namun kesinambungan pembangunan adalah kunci agar kualitas pendidikan di pelosok Aceh tidak kembali tertinggal. Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian pada satuan pendidikan anak usia dini yang menjadi fondasi karakter generasi bangsa.
Di bawah atap baru yang kini tak lagi bocor, Nelli dan para guru di Pidie Jaya kini bisa bermimpi lebih tinggi. Tak ada lagi belajar di tengah genangan, yang ada hanyalah keriuhan tawa anak-anak yang menyongsong masa depan di ruang kelas yang layak.
Peliput : Eko Widodo dan Aldo Nurhuda
Penyunting : EB Harsono