Berita
22 Tahun Sutimah Kawal Siswa Transisi PAUD ke SD Mendapat Simpati Pak Menteri
Berita 2026-05-18 | 10:00:00
KUDUS PAUDPEDIA - Keriangan khas anak-anak memenuhi ruang Kelas 1 SDN 7 Getassrabi, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, suatu siang. Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya tampak telaten menuntun jemari kecil seorang murid yang masih kikuk memegang pensil. Sutimah namanya, usianya kini memasuki kepala lima. Di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan, tidak ada raut bergegas atau tak sabar.
Bagi Sutimah, menghadapi riuh rendah anak-anak yang baru bertransisi dari dunia bermain Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD) adalah sebuah seni merawat kebahagiaan sekaligus ujian kesabaran yang tiada habisnya. Fase ini adalah salah satu momen paling krusial sekaligus tersulit dalam dunia pendidikan.
"Mengajar kelas satu itu seperti menenun benang halus, harus pakai hati dan tidak bisa buru-buru," tutur Sutimah, matanya berbinar jenaka mengingat tingkah polah murid-muridnya.
Seni Menghadapi Fase Transisi yang Rumit
Sutimah sangat paham bahwa mengubah pola pikir anak dari yang semula hanya bermain di PAUD menjadi siswa SD yang harus duduk tenang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak anak yang masuk ke kelasnya bahkan belum bisa mengenal huruf, apalagi membaca dan menulis.
"Mereka ini kan dunianya masih bermain. Kalau langsung dipaksa membaca dan menulis dengan kaku, mereka bisa takut pada sekolah," jelasnya.
Untuk menjembatani masa transisi yang sulit itu, Sutimah punya resep sendiri. Kelasnya jarang hening; ruang itu lebih sering riuh oleh nyanyian, tepuk tangan, dan tebak-tebakan interaktif. Baginya, mengejar ketertinggalan literasi siswa tidak boleh dilakukan dengan ketegangan atau paksaan.
Ketika bel pulang berbunyi dan sebagian besar anak berlarian keluar, ruang kelas Sutimah tidak langsung sepi. Secara sukarela, tanpa memungut biaya sepeser pun, ia memilih bertahan selama satu jam untuk nelateni—mendampingi secara khusus—anak-anak yang masih kesulitan mengeja atau tertinggal dalam menulis.
"Saya izin dulu ke orang tua mereka. Ini bukan hukuman, tapi waktu bermain tambahan bersama buku," kisahnya manis.
Rahim Perjuangan: Dari Honor Rp 50 Ribu
Kisah Sutimah adalah potret nyata dari rahim perjuangan guru di Indonesia. Dedikasinya yang luar biasa saat ini tidak tumbuh dari kenyamanan, melainkan dari keteguhan melewati masa-masa sulit yang amat panjang.
Memulai langkah sebagai Guru Wiyata Bakti (honorer) pada tahun 2004, Sutimah harus bertahan dengan honor yang jauh dari kata cukup. Selama dua tahun pertama mengajar, ia bahkan tidak menerima gaji. Baru pada tahun 2006, ia mengantongi honor pertamanya sebesar Rp 50.000 per bulan. Angka itu kemudian naik perlahan menjadi Rp 220.000 per bulan pada periode 2008–2010.
Asa baru mulai membubung ketika ia resmi diangkat menjadi CPNS setelah lolos formasi tahun 2010 dan ditempatkan di SDN 7 Getassrabi. Di sekolah yang kini memiliki 72 murid tersebut, Sutimah memikul tanggung jawab besar sebagai wali kelas 1.
Periode Perjalanan Karier Sutimah Status / Jabatan Pendapatan / Bulan
- 2004 – 2006 Guru Wiyata Bakti (Honorer) Rp 0 - Rp 50.000
- 2008 – 2010 Guru Wiyata Bakti (Honorer) Rp 220.000
- 2011 – Sekarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Gaji Pokok & Tunjanga
Menaklukkan 4 Jam Aspal Antar-Kabupaten
Namun, di balik kegembiraan yang ia pancarkan di depan kelas, ada harga sangat mahal yang harus dibayar Sutimah setiap hari. Senyum ramah yang menyambut para siswa di Kudus itu sesungguhnya adalah hasil dari penaklukan rasa lelah yang luar biasa sejak subuh membayang di ufuk timur rumahnya, di Kabupaten Boyolali.
Sutimah harus membelah jalanan lintas kabupaten, menempuh perjalanan sekitar empat jam pergi-pulang setiap hari demi bisa berdiri di depan papan tulis.
"Pagi hari saya jalan habis subuh, lalu pulang setelah dzuhur dan sampai di rumah pukul 16.00 WIB. Kurang lebih saya menghabiskan waktu empat jam di jalan setiap hari," ucapnya lirih.
Jika dihitung, sudah 22 tahun lamanya Sutimah mengarungi labirin aspal tersebut. Bertahan di atas sadel motor selama puluhan tahun di tengah risiko jalan raya bukanlah pilihan rasional secara ekonomi, melainkan sebuah kepatuhan pada sumpah profesi.
"Kalau saya melanggar sumpah pegawai, saya merasa beban mental," ungkapnya dengan suara bergetar.
Berkah di Usia Senja dan Simpati Pak Menteri
Keteguhan Sutimah merawat masa depan anak-anak perlahan mendapat penawar. Senyumnya kian sumringah saat menceritakan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2026. Regulasi baru ini membuat tunjangan profesi guru kini cair setiap bulan langsung ke rekeningnya, tak lagi dirapel per tiga bulan.
Menariknya, kesejahteraan yang membaik itu tak ia nikmati sendiri. Dari dompetnya, mengalir berkat untuk anak-anak yatim, kaum duafa, hingga bantuan langsung bagi murid-muridnya yang kurang mampu. "Alhamdulillah berkah. Bisa ikut kurban di kampung dan kadang membantu ekonomi murid yang benar-benar minim," katanya tulus.
Di balik semangat membaja itu, fisik Sutimah mulai mengirim sinyal kelelahan. Usia yang menua membuat fisik tak lagi seprima dulu. Ia hanya berharap bisa mutasi ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya di Boyolali.
Dua kali pengajuannya sempat layu karena sekolah tempatnya mengajar masih krisis guru. Namun, secercah harapan baru saja menyala saat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mendengar langsung kisahnya dalam sebuah kunjungan kerja. Pak Menteri menyimak dengan takzim dan langsung menginstruksikan dinas terkait untuk segera mencarikan solusi demi kemanusiaan.
Di tengah ketidakpastian birokrasi kepindahannya, Sutimah tetap memilih setia menyalakan mesin motornya setiap subuh. Baginya, menjadi guru kelas awal bukan lagi persoalan berapa kilometer jarak yang harus ia taklukkan, melainkan tentang seberapa dalam ketulusan yang bisa ia tanamkan pada jiwa-jiwa kecil yang sedang menatap masa depan.
Penulis : Eko B Harsono
Sumber : Siaran Pers BKHM Kemendikdasmen
InfoTerkini
Riset Ungkap Kesenjangan Asupan Gizi Mikro Murid Capai 100 Persen, SEAMEO RECFON Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti Ilmiah untuk Murid
Berita 2026-09-11 | 07:00:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil studi Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition membeberkan adanya kesenja...
selengkapnyaFinalisasi PKS Revitalisasi PAUD Angkatan ke-76, Djayeng Baskoro: Kesiapan Dokumen Perencanaan Jadi Kunci Tepat Sasaran Revitalisasi PAUD
Berita 2026-09-11 | 05:00:00
JAKARTA PAUDPEDIA — Pemerintah mempercepat penyiapan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia sej...
selengkapnyaHutan Juga Rumah: Mengenalkan Kepedulian Lingkungan Sejak Usia Dini
Ruang Artikel 2026-09-10 | 09:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Kawan PAUD, ketika mendengar kata rumah, anak mungkin membayangkan bangunan tempat ia tinggal bersama ayah, ibu, atau anggota keluarganya. Namun, pernahka...
selengkapnya