Berita
120 Satuan PAUD di Jawa Timur Ikuti Bimtek Digitalisasi dan Siap Gunakan IFP Sebagai Media Pembelajaran yang Menyenangkan
Berita 2025-09-25 | 19:00:00
PAUDPEDIA Malang – Sebanyak 120 satuan PAUD di Jawa Timur mengikuti Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran PAUD yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada 23–25 September 2025 di Savana Hotel & Convention Malang.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru dalam memanfaatkan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) dan platform Rumah Pendidikan (Ruang Murid) untuk mendukung pembelajaran interaktif di PAUD.
Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, menegaskan teknologi harus dimaknai sebagai sarana. “Digitalisasi bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna bagi anak usia dini,” ujarnya.
Selain menerima pembekalan materi kebijakan, peserta juga diajak praktik langsung melalui simulasi mengajar (microteaching). Usai Bimtek, seluruh satuan PAUD peserta akan menerima perangkat IFP yang diharapkan dapat digunakan untuk mendukung transformasi pembelajaran digital di lembaga masing-masing.
Serunya Suasana Pelatihan
Suasana berbeda terlihat di ruang pertemuan Savana Hotel & Convention Malang. Alih-alih spidol dan papan tulis, ratusan guru PAUD mencoba menulis di layar besar yang langsung memunculkan gambar bergerak. Ada yang mencoba membuat kuis, ada pula yang tertawa saat anak panah digital bergerak mengikuti sentuhan jari.
Inilah suasana Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran PAUD yang digelar Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pada 23–25 September 2025.
Kegiatan yqng diikuti 120 satuan PAUD dari Jawa Timur yang terdaftar sebagai peserta resmi berlangsung seru. Mereka sekaligus menjadi calon penerima perangkat Interactive Flat Panel (IFP) untuk mendukung transformasi pembelajaran berbasis digital.
Direktur PAUD, Dr. Nia Nurhasanah, menegaskan bahwa digitalisasi harus tetap berpijak pada kebutuhan anak. “Teknologi bukan sekadar mengganti papan tulis dengan layar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ia membantu anak usia dini belajar dengan cara yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dunia mereka,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Nia menambahkan, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal ketersediaan perangkat, melainkan kesiapan pendidik. “Melalui Bimtek ini, kami ingin memastikan guru bukan hanya bisa mengoperasikan alat, tapi juga merancang kegiatan bermain yang kreatif dan interaktif berbasis teknologi,” jelasnya.
Selama tiga hari, peserta belajar mulai dari kebijakan digitalisasi, etika dan keamanan digital, hingga strategi mendesain kegiatan bermain berbasis IFP dan platform Rumah Pendidikan (Ruang Murid). Mereka juga melakukan microteaching—simulasi mengajar menggunakan IFP—yang menjadi puncak antusiasme kegiatan.
Nur Aini, guru TK dari Kabupaten Lumajang, mengaku pengalaman ini membuka mata. “Awalnya saya khawatir teknologi bikin anak jadi pasif. Tapi setelah praktik, ternyata justru bisa membuat mereka lebih aktif. Misalnya lewat kuis digital, anak-anak bisa langsung melihat hasil jawabannya. Mereka senang sekali,” tuturnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Ahmad Fauzi, pendidik PAUD dari Kota Batu, menilai kehadiran IFP akan memudahkan guru berkreasi. “Kalau biasanya kami terbatas di gambar statis, sekarang bisa menampilkan animasi. Anak-anak tentu lebih tertarik dan imajinasinya terangsang,” katanya.
Direktorat PAUD berharap, setelah kembali ke satuan masing-masing, peserta menjadi agen perubahan yang menularkan pengetahuan digital ke rekan sejawat. “Target kami bukan hanya perangkat sampai di sekolah, tapi juga cara berpikir baru dalam mengajar yang menekankan bermain sambil belajar, didukung teknologi,” kata Nia.
Peliput : Tim Komunikasi Direktorat PAUD
Penyunting: Eko Harsono