RuangArtikel
Mengapa Kebiasaan Menyalahkan Anak Perlu Dihentikan?
PAUDPEDIA - Ayah, Bunda, dan Sobat PAUD, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan emosi anak. Namun tanpa disadari, orang tua sering menyalahkan anak setiap kali terjadi kesalahan. Anak yang terus disalahkan dapat merasa tidak aman dan sulit mengekspresikan emosinya. Padahal pada usia dini, anak masih belajar memahami emosi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kebiasaan menyalahkan anak bisa berdampak hingga dewasa. Kebiasaan ini muncul dalam bentuk bentakan, kemarahan, atau anggapan bahwa anak selalu menjadi sumber masalah. Sikap tersebut sering terlihat dari ucapan dan perlakuan orang tua sehari-hari. Berikut beberapa dampak dari kebiasaan menyalahkan anak:
- Menurunnya rasa percaya diri
Anak yang sering disalahkan akan memandang dirinya sebagai individu yang selalu salah. Ini menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan kehilangan rasa percaya terhadap kemampuannya sendiri.
- Sulit dalam mengelola emosi
Tumbuh dalam lingkungan penuh penyalahan cenderung mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, seperti mudah marah, sedih, dan memendam perasaan karena takut salah.
- Anak kesulitan bersosialisasi
Kebiasaan menyalahkan membuat anak sulit untuk berinteraksi dengan teman sebaya, dan kurang percaya diri dalam berkomunikasi. Hal ini terjadi karena anak terbiasa merasa bahwa dirinya tidak dihargai dan terus disalahkan.
- Anak menjadi kurang dekat dengan orang tua
Pola asuh yang sering menyalahkan dapat merusak hubungan emosional orang tua dan anak. Anak merasa tidak dipahami sehingga menjadi tertutup kepada orang tua.
- Anak menyalahkan diri sendiri
Kebiasaan orang tua yang menyalahkan anak secara berulang dapat menyebabkan anak cenderung menyalahkan diri sendiri, karena ia merasa bahwa dirinya sebagai penyebab utama setiap kesalahan yang terjadi.
Anak belajar dan berkembang melalui pengalaman sehari-hari bersama orang tua. Cara orang tua bersikap dan berbicara sangat mempengaruhi perasaan serta kepercayaan diri anak. Karena itu, mendidik anak seharusnya tidak berfokus pada mencari kesalahan, tetapi lebih pada membimbing, memahami, dan mendampingi mereka dengan sabar dan penuh kasih sayang.
Penulis : Della Okta Yussi
Editor : Ifina Trimuliana
Kurator : Eko Widodo
Referensi
Johanna Sourander, Sarra Salo, Marja-Leena Laakso & Mirjam Kalland. (2025). Toddlers'social-emosional Competence and Problem Behaviours: Support Among Finish First-Time Parents. Early Child Development And Care
Thomas Edward Gladwin, Iris Eskhout, Eric Vermetten & Elbert Geuze. (2019). Childhood Trauma And The Role Of Self - Blame On Psychological Well-Being After Deployment In Male Veterans. European Journal Of Psychtraumatology
2026-02-10 | 08:30:00
InfoTerkini
Peran Krusial PAUD dalam Mencetak Generasi Emas 2045, Pesan Pak Wamen dari Pulau Belakang Padang: Sehat, Kuat, dan Berani Modal Utama Anak Indonesia
Berita 2026-08-14 | 07:15:00
PAUDPEDIA BATAM - Di atas hamparan pasir Pulau Belakang Padang, Batam, yang berhadapan langsung dengan Singapura, sebuah pesan strategis disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar da...
selengkapnyaDr Didik Suhardi M.Pd :”Revitalisasi PAUD Bertumpu pada Manajemen Berbasis Sekolah, Swakelola Dorong Kemandirian dan Partisipasi Publik”
Berita 2026-08-14 | 07:00:00
MEDAN, PAUDPEDIA — Pemerintah berkomitmen meningkatkan mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui perbaikan sarana dan prasarana sekolah. Program revitalisasi sekolah ini dilaku...
selengkapnya