RuangArtikel
Koding untuk Anak Tanpa Komputer, Kok Bisa?
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda dan Sobat PAUD, saat mendengar istilah koding, kita spontan ingat kode-kode komputer yang rumit. Padahal kegiatan koding di PAUD bukan untuk membuat anak jadi programmer, tapi untuk melatih cara berpikir komputasional. Artinya, anak belajar berpikir runtut, mengenali pola, dan menyelesaikan masalah satu langkah demi satu langkah. Koding pada anak tidak selalu melibatkan komputer, namun juga dapat melalui kegiatan-kegiatan tanpa peralatan digital yang disebut dengan koding unplugged. Dalam kegiatan koding unplugged, anak-anak diajak bermain secara aktif memindahkan benda, mengikuti arah panah, melompat, atau menyusun langkah-langkah sederhana—sehingga seluruh tubuh ikut terlibat.
Pembelajaran ini bersifat multisensoris karena melibatkan gerak tubuh (kinestetik), penglihatan, pendengaran, dan sentuhan. Dengan cara ini, anak tidak hanya memahami urutan dan pola secara logis, tetapi juga mengalaminya langsung lewat permainan yang menyenangkan dan mudah dipahami. Pembelajaran koding unplugged memperkenalkan konsep ilmu komputer dasar melalui aktivitas non-digital, meningkatkan keterampilan spasial, motorik, dan pemecahan masalah pada anak usia dini
Sebenarnya anak-anak mengalami dan menggunakan koding dalam kehidupan sehari-hari dan rutinitas mereka dengan praktik tanpa kabel (misalnya belajar mengikat tali sepatu dengan mengikuti rangkaian langkah). Baik guru maupun anak-anak mungkin tidak menyadarinya yang dikodekan oleh anak-anak, namun praktik sehari-hari ini mewakilinya prinsip pengkodean yang diperlukan untuk mengikuti atau mengidentifikasi prosedur langkah demi langkah untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.c
- Mendorong kolaborasi dan kreativitas, memungkinkan anak-anak untuk terlibat dalam pengalaman belajar yang mendalam tanpa menggunakan layar atau alat digital.
- Kegiatan Unplugged memungkinkan anak untuk memahami konsep dasar ilmu komputer tanpa pemrograman melalui pengalaman langsung dan menyenangkan. kegiatan ini membantu anak belajar berpikir komputasi melalui permainan dan latihan interaktif. Anak jadi lebih mudah memahami ide-ide sulit seperti urutan dan pengulangan. Selain itu, mereka juga dilatih untuk berpikir menyusun langkah-langkah (algoritma), mengenali pola, membagi masalah besar menjadi bagian kecil, pemahaman situasi dan menyederhanakan informasi.
Contoh:

Cara bermain:
- Tugas pertama mengunjungi sekitar putaran terluar (kuning anak panah)
- Tugas ke-2 untuk belok kiri menuju putaran dalam (panah hijau)
- Tugas ke-3 untuk mengulang tugas ke-1 dan ke-2 untuk masuk ke dalam putaran terdalam.
- Tugas ke-4 berhenti ketika semua tempat telah dikunjungi.
Ada empat keterampilan utama yang dilatih dalam kegiatan unplug coding di atas, yaitu: berpikir algoritmik, mengenali pola, melakukan abstraksi dan generalisasi, serta menguraikan masalah.
Pertama, berpikir algoritmik melatih anak untuk menyusun langkah-langkah satu per satu agar bisa menyelesaikan tugas. Dalam permainan ini, anak diajak mengingat langkah-langkah yang pernah mereka coba sebelumnya, lalu menyusunnya kembali dengan urutan yang benar. Jadi, anak belajar membuat petunjuk sederhana, seperti 'maju dua langkah, belok kanan, lalu berhenti'. Permainan ini membantu anak berpikir runtut dan teratur.
Konsep kedua adalah pengenalan pola, yaitu saat anak belajar melihat urutan yang berulang dalam suatu kegiatan. Dalam permainan ini, anak mengikuti panah kuning di lingkaran luar, lalu belok kiri ke panah hijau untuk masuk ke lingkaran berikutnya. Pola gerakan ini—kuning lalu hijau—diulang kembali saat anak masuk ke lingkaran paling dalam. Saat anak mulai menyadari bahwa urutannya selalu sama, mereka bisa menebak sendiri langkah berikutnya. Ini berarti anak sedang belajar mengenali pola. Kegiatan seperti ini membantu anak berpikir lebih teratur dan memahami urutan dengan cara yang menyenangkan.
Ketiga, abstraksi dan generalisasi, yaitu saat anak belajar menemukan satu aturan yang bisa dipakai berulang di situasi yang mirip. Dalam permainan ini, anak mengikuti panah kuning di lingkaran luar, lalu belok kiri ke panah hijau untuk masuk ke lingkaran dalam. Saat anak sudah paham pola ini, mereka bisa mengulang sendiri tanpa perlu dijelaskan lagi. Anak jadi tahu bahwa caranya bisa dipakai lagi untuk masuk ke lingkaran berikutnya. Inilah yang disebut abstraksi—anak menyederhanakan pola menjadi satu aturan. Lalu ketika anak bisa memakai aturan itu di bagian lain permainan, itu disebut generalisasi. Jadi, anak belajar mengambil kesimpulan dan menerapkannya di tempat yang berbeda.
Melalui kegiatan koding unplugged, anak-anak usia dini dapat belajar menyusun langkah, mengenali pola, dan memecahkan masalah tanpa perlu duduk di depan layar. Koding ternyata tidak harus rumit ia bisa dikenalkan lewat permainan yang sederhana, menyenangkan, dan penuh makna. Dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang menyenangkan, bermakna dan berkesadaran, kita bukan hanya mengajarkan logika, tetapi juga menumbuhkan cara berpikir yang teratur, kreatif, dan kolaboratif sejak dini. Jadi, mari kita eksplorasi koding bersama anak-anak—dengan langkah kecil, imajinasi besar, dan hati yang terbuka.
Penulis : Ifina Trimuliana
Kurator : Arika
Refrensi
Aranda, G., & Ferguson, J. P. (2018). Unplugged Programming: The future of teaching computational thinking? Pedagogika, 68(3), 279–292. https://doi.org/10.14712/23362189.2018.859
Lee, J., & Junoh, J. (2019). Implementing Unplugged Coding Activities in Early Childhood Classrooms. Early Childhood Education Journal, 47(6), 709–716. https://doi.org/10.1007/s10643-019-00967-z
Pelizzari, F., Marangi, M., Rivoltella, P. C., Peretti, G., Massaro, D., & Villani, D. (2023). Coding and childhood between play and learning: Research on the impact of coding in the learning of 4-year-olds. Research on Education and Media, 15(1), 9–19. https://doi.org/10.2478/rem-2023-0003
Threekunprapa, A., & Yasri, P. (2020). Patterns of Computational Thinking Development while Solving Unplugged Coding Activities Coupled with the 3S Approach for Self-Directed Learning. European Journal of Educational Research, volume-9-2020(volume-9-issue-3-july-2020), 1025–1045. https://doi.org/10.12973/eu-jer.9.3.1025
2025-05-21 | 10:09:00
InfoTerkini
Peran Krusial PAUD dalam Mencetak Generasi Emas 2045, Pesan Pak Wamen dari Pulau Belakang Padang: Sehat, Kuat, dan Berani Modal Utama Anak Indonesia
Berita 2026-08-14 | 07:15:00
PAUDPEDIA BATAM - Di atas hamparan pasir Pulau Belakang Padang, Batam, yang berhadapan langsung dengan Singapura, sebuah pesan strategis disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar da...
selengkapnyaDr Didik Suhardi M.Pd :”Revitalisasi PAUD Bertumpu pada Manajemen Berbasis Sekolah, Swakelola Dorong Kemandirian dan Partisipasi Publik”
Berita 2026-08-14 | 07:00:00
MEDAN, PAUDPEDIA — Pemerintah berkomitmen meningkatkan mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui perbaikan sarana dan prasarana sekolah. Program revitalisasi sekolah ini dilaku...
selengkapnyaKetika Guru dan Kepala PAUD di Priangan Timur Menagih Asa ke Komisi X DPR RI, Kenaikan BOP PAUD Karena Satu Dekade Bertahan Rp 600.000/Anak
Berita 2026-08-13 | 08:15:00
TASIKMALAYA ,PAUDPEDIA — Di balik hangatnya diskusi mengenai modernisasi ruang kelas dan ekspansi teknologi digital, suara jernih dari garda terdepa...
selengkapnyaWamendikdasmen Fajar Riza Ul; “Janjang PAUD Miliki Posisi Strategis Sebagai Fase Fondasi Utama Sistem Pendidikan Nasional”
Berita 2026-08-13 | 08:00:00
BATAM, PAUDPEDIA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi menegaskan posisi strategis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD...
selengkapnyaRevitalisasi PAUD Angkatan 62 Dimulai, Pemerintah Targetkan Layanan Berkualitas 259 Satuan PAUD Provinsi Kepri, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat
Berita 2026-08-12 | 07:00:00
BATAM, PAUDPEDIA – Pemerintah resmi memulai tahap finalisasi perencanaan dan penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) untuk Program Revitalisasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ...
selengkapnya