RuangArtikel
Anak Sulit Fokus: Kenali Tanda Kurang Stimulasi Sensorik
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda Sobat PAUD, apakah anda sering melihat anak yang seolah tidak bisa diam? Mereka berlari, meloncat, atau gelisah terus-menerus. Kadang kita mengira itu tanda anak nakal atau hiperaktif, padahal sebenarnya bisa jadi karena anak kurang mendapatkan stimulasi sensorik yang tepat.
Stimulasi sensorik merupakan rangsangan yang diberikan melalui indra anak (penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, pengecapan, keseimbangan, dan posisi tubuh).
Stimulasi sensorik pada anak usia dini mencakup tujuh sistem utama (visual, auditori, taktil, vestibular, proprioseptif, gustatori, dan olfaktori) yang mendukung perkembangan motorik, kognitif, bahasa, dan sosial melalui aktivitas terstruktur. Mari kita bahas satu per satu di bawah ini:
- Taktil (sentuhan). Stimulasi taktil melibatkan penggunaan berbagai tekstur, suhu, dan tekanan untuk mengembangkan sistem peraba dan sensitivitas kulit.
Manfaat: mengembangkan kemampuan mengenali tekstur dan bentuk, meningkatkan keterampilan motorik halus.
Contoh kegiatan: bermain finger painting dan main pasir.
- Vestibular (keseimbangan/gerakan), yaitu rangsangan melalui gerakan yang membantu anak menjaga keseimbangan dan mengenali posisi tubuhnya di ruang, melalui sistem di telinga bagian dalam.
Contoh kegiatan: bermain ayunan, berguling di rumput, berjalan di garis lurus, melompat, berlari, naik turun tangga.
- Proprioseptif (posisi dan tekanan tubuh), yaitu rangsangan dari otot dan sendi yang membantu anak merasakan posisi tubuhnya dan mengontrol gerakannya.
Manfaat: meningkatkan kesadaran posisi tubuh, meningkatkan kekuatan otot, mendukung koordinasi motorik kasar dan halus, melatih regulasi diri dan fokus.
Contoh kegiatan: push up, tarik tambang ringan, bermain menarik benda lainnya yang aman.
- Visual (penglihatan), yaitu rangsangan yang melibatkan penggunaan cahaya, warna, bentuk, gerakan, dan kontras untuk mengembangkan kemampuan penglihatan dan persepsi visual anak.
Manfaat: meningkatkan koordinasi mata dan tangan, mengembangkan kemampuan fokus dan perhatian, membantu pengenalan pola dan bentuk.
Contoh kegiatan: main puzzle dengan berbagai bentuk, bermain membangun rumah-rumahan dan main balok.
- Auditori (pendengaran), yaitu rangsangan dengan suara, musik, dan irama untuk melatih pendengaran anak, sehingga ia lebih peka mendengar dan mudah mengikuti instruksi.
Contoh kegiatan: mengenali suara hewan, kendaraan, alam, dan dongeng dengan variasi intonasi dan efek suara.
- Olfaktori (penciuman). Stimulasi olfaktori adalah rangsangan dengan berbagai bau untuk melatih indera penciuman dan ingatan anak.
Manfaat: membantu anak membedakan aroma, mendukung penerimaan makanan. Contoh kegiatan: permainan menebak aroma/bau dengan menutup mata. Namun hindari aroma yang kuat dan perhatikan reaksi alergi dan sensitivitas anak.
- Gustatori (pengecapan). Stimulasi gustatori melibatkan eksplorasi berbagai rasa untuk mengembangkan sistem perasa dan penerimaan makanan.
Manfaat: mencegah picky eater, membantu pengalaman sosial makanan.
Contoh kegiatan: melibatkan anak memasak maupun menata hidangan sebelum makan.
Jadi, saat anak yang tampak “tidak bisa diam” sebenarnya mereka sedang mencari pengalaman sensorik yang dibutuhkannya. Oleh karena itu berikan stimulasi yang beragam untuk membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
Penulis : Ifina Trimuliana
Kurator : Dona Paramita
Referensi
Cook, M., Ashby, S., Perkes, I. E., Dale, R. C., Bray, P., & Soler, N. (2025). Sensory experiences that impact tics: young person and parent perspectives. Disability and Rehabilitation, 0(0), 1–10. https://doi.org/10.1080/09638288.2025.2494227
Hochreuter, J., Wehrli, S., Locher, C., Lionetti, F., Kossowsky, J., Pluess, M., & Koechlin, H. (2025). Painfully Sensitive: How Sensory Processing Sensitivity Affects Healthy Adolescents’ Perception of Pain. Journal of Pain Research, 18, 719–733. https://doi.org/10.2147/JPR.S473575
2025-09-26 | 09:07:00