Berita
PISA 2025: Akses dan Kesetaraan Pendidikan Indonesia Melonjak, Capaian Tingkat Atas Masih PR
Berita 2026-09-09 | 07:15:00
JAKARTA, PAUDPEDIA — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan dinamika menarik sekaligus tantangan berumpak dalam lanskap pendidikan nasional. Di satu sisi, Indonesia sukses memperluas akses pendidikan formal dan mendorong kesetaraan sosial-ekonomi.
Namun, di sisi lain, ketimpangan pencapaian taraf belajar tinggi masih sangat curam jika dibandingkan dengan rata-rata negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Berdasarkan data PISA 2025 yang dirilis OECD pada Selasa (8/9/2026), Indonesia berhasil meningkatkan skor di dua domain utama. Skor membaca naik 6 poin dari 359 (PISA 2022) menjadi 365. Kenaikan serupa sejauh 6 poin terjadi pada domain literasi sains—fokus utama penilaian kali ini—yang beranjak dari 383 ke angka 389.
Sementara itu, kemampuan matematika murid Indonesia berada di kisaran 364. Capaian kenaikan skor ini dinilai strategis karena terjadi di tengah performa global yang cenderung melorot.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menegaskan bahwa hasil ini memperlihatkan daya tahan sistem pendidikan Indonesia di tengah penurunan tren nilai sains, membaca, dan matematika negara OECD selama 25 tahun terakhir.
Kesetaraan dab Perluasan Akses Membaik
Keberhasilan Indonesia yang paling tebal terlihat pada aspek kesetaraan dan perluasan akses. Indikator Coverage Index—yakni proporsi anak usia 15 tahun dalam sistem pendidikan formal—melonjak tajam dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Perluasan ini berjalan paralel sejak beroperasinya computer based test (CBT) penuh sejak 2018.
Temuan menarik lainnya berkaitan dengan inklusivitas sosial. Latar belakang ekonomi murid di Indonesia tidak menjadi penghalang berarti untuk berprestasi setinggi rata-rata OECD.
Pengaruh kondisi sosial-ekonomi terhadap variasi skor sains di Indonesia hanya sebesar 8,6 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata OECD yang mencapai 11,6 persen.
Bahkan, proporsi siswa dari keluarga kurang beruntung yang tetap mampu meraih hasil belajar baik (academic resilience) di Indonesia mencapai 15,4 persen, mengungguli rerata OECD di angka 11,9 persen.
Atas capaian perluasan akses yang ramah inklusi ini, Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher memberikan apresiasi. OECD mencatat bahwa anak-anak Indonesia memiliki fondasi mental pembelajaran mandiri yang sangat prospektif.
Dalam indikator psikologis, rasa ingin tahu siswa Indonesia berada pada skala indeks 0,18 (dibandingkan 0,00 rata-rata OECD), kemampuan menetapkan tujuan pembelajaran di angka 0,32 (OECD 0,00), dan keberanian meminta bantuan sebesar 0,25 (OECD 0,00).
Tak hanya itu, siswa Indonesia juga memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap isu global. Lebih dari 90 persen siswa Indonesia menyatakan tertarik berkontribusi pada perlindungan lingkungan hidup melalui karier masa depan mereka.
Angka kepedulian lingkungan ini jauh melampaui rata-rata negara OECD yang hanya berada di angka 62 persen.
Kemampuan berpikir kritis dalam pemecahan masalah komputasional serta validasi informasi kecerdasan artifisial (AI) siswa Indonesia juga tercatat melampaui rata-rata global.
Pekerjaan Rumah Taraf Atas
Meski menunjukkan fondasi karakter dan akses yang membaik, laporan PISA 2025 menyisakan pekerjaan rumah (PR) besar pada taraf kemahiran akademik tingkat tinggi. Jumlah murid Indonesia yang mampu menembus level performa sangat tinggi (top performers) pada setidaknya satu bidang dari sains, membaca, atau matematika masih amat langka.
Data OECD mencatat hanya 0,1 persen atau 1 dari 1.000 siswa Indonesia yang berhasil mencapai kelompok rentang hasil belajar tertinggi tersebut. Angka ini tertinggal sangat jauh dari rata-rata negara OECD yang telah mencapai 11,9 persen.
Kondisi ini mengonfirmasi bahwa kendati disparitas akses makin terkikis, penetrasi pembelajaran bernalar tingkat tinggi (higher-order thinking skills) belum menyentuh taraf optimal secara merata.
Merespons gambaran komprehensif tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merumuskan empat pilar intervensi strategis.
Strategi ini meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi digital guru (termasuk koding dan AI), penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) serta literasi-numerasi, harmonisasi Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik berbasis penalaran PISA, serta keterlibatan keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH).
Akselerasi perbaikan ini ditopang oleh platform digital mandiri seperti Ruang GTK, Ruang Murid, dan portal simulasi Pusmendik. Ekosistem ini diharapkan dapat menjembatani ketimpangan mutu, memperkuat penalaran sains, serta mendorong lebih banyak siswa Indonesia meloncat ke kelompok berprestasi tinggi di kancah internasional.
Penulis: Eko B Harsono
Sumber Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen
InfoTerkini
pengumuman-pengadaan swakelola-tipe III
Berita 2026-10-07 | 21:00:00
Menepati Janji, Menumbuhkan Kepercayaan Anak
Ruang Artikel 2026-10-07 | 10:00:00
PAUDPEDIA—Ayah, Bunda, dan Kawan PAUD, pernah berjanji kepada anak hanya agar ia berhenti menangis? “Nanti Ayah belikan mainan,” “Besok kita jalan-jalan,”...
selengkapnyaKabupaten Klungkung Gelar Gebyar Mahottama, Gerakkan Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah dan Penegerian 59 PAUD Swasta demi Sukseskan Wajar 13 Tahun
Berita 2026-10-07 | 06:15:00
SEMARAPURA, PAUDPEDIA — Pemerintah Kabupaten Klungkung, Bali, menegaskan komitmennya dalam memperkuat fondasi pendidikan dasar melalui penegerian 59 P...
selengkapnyaKaindra dan Aiden Menanam Benih STEAM Sejak Usia Dini, Sukses Mengukir Prestasi di Ajang Internasional Mathematics and Science Olympiad 2026
Berita 2026-10-07 | 06:00:00
DEPOK, PAUDPEDIA — Benih rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap eksplorasi sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematic...
selengkapnya